Shirley bagai tak putus dirundung malang. Penderitaan baginya seperti jalan panjang tak berujung. Lara itu berangkat dari tumor ginjal stadium dua yang ia idap. 'Seluruh ginjal kanan saya tertutupi daging yang mengganas,' katanya. Untuk mengatasinya, ia pasrah organ yang berfungsi memisahkan produk buangan metabolisme dari darah itu diangkat. Maka ia pun hidup dengan hanya sebuah ginjal kiri.
Meski buah pinggang yang terserang tumor dibuang, sel mematikan itu metastasis alias menyebar ke kantong empedu. Itu terjadi 11 tahun pascaoperasi. Untuk kedua kalinya, ia menjalani operasi pengangkatan sebagian organ itu. Baginya operasi itu tak juga menuntaskan masalah. Buktinya, ketika pemeriksaan lanjutan terdapat darah beku bagai membatu di daerah sekitar getah bening. Perempuan kelahiran Medan, Sumatera Utara, 38 tahun silam itu kesal sendiri. Oleh karena itu ia terbang ke Singapura.
Dokter negeri jiran itu mengangkat darah yang mem beku. Saat itu tim dokter juga menemukan penyakit lain di tubuh Shirley. Penyakit autoimun itu ber nama sindrom anti fosfolipid antibodi. Menurut dr Hendra Gunawan Widja narko SpOG, ahli kan dungan yang ber praktek di rumahsakit di Jakarta Pusat, sindrom antifosfolipida antibodi ada lah gangguan pada sistem pembekuan darah penyebab trombosis pada arteri dan vena.
Untuk mengatasi penyakit itu, Shirley mengkonsumsi heparin agar darahnya tak cepat membeku. Dampak konsumsi obat itu, ia keguguran hingga 4 kali. Baru setelah berumur 29 tahun Shirley hamil. Ia tetap menyuntik heparin di atas pusar selama hamil hingga 6 bulan setelah melahirkan.
Kanker paru
Dengan kelahiran putrinya, Shirley memang melupakan penderitaannya meski sesaat. Gangguan kesehatan lain muncul, tekanan darahnya melambung 150/110 mmHg-kadar normal 110/90 mmHg. Sedikit saja kelelahan, ia pusing dan mual. 'Saya menjadi tak suka dengan keramaian dan cenderung menyendiri,' katanya. Ia pun mengkonsumsi berbagai obat antihipertensi. Penyakit itu belum juga teratasi, penyakit lain muncul.
Kali ini paru-paru kanannya terserang kanker stadium 4. Ia menurut saja ketika dokter memutuskan mengangkat paru-paru sebesar 4 cm x 4 cm x 2,3 cm. Tujuannya agar tak menyebar ke penjuru paru. Yang ia rasakan pascapengangkatan paru adalah nyeri di pangkal tulang leher dan siku tangan kanan. Rasa sakit itu diperparah dengan kemoterapi yang dijalaninya selama 6 kali. 'Saya berharap setelah kemoterapi, kanker tak lagi hinggap di tubuh saya,' kata Shirley.
Toh, harapan itu sulit terwujud. Sel kanker kembali metastasi ke paru-parunya setahun setelah pengangkatan paru. Selain CT scan yang menjadi penanda adanya kanker, hasil uji laboratorium menunjukkan kadar glukosa tinggi 154 mg/dl, kadar normal 56-110 mg/dl dan asam urat 7,2 mg/dl dengan kisaran normal 2,4-5,7 mg/dl. Adapun penanda kanker: tumor CA 19,9 mencapai 60,5 U/ml, normal kurang dari 39 U/ml.
Dengan diagnosis itu, Shirley mesti menjalani operasi pengambilan daging paru-paru agar kanker tidak menyebar, diikuti 6 kali kemoterapi. Shirley letih menjalani operasi berkali-kali, tetapi kesembuhan tak pernah terengkuh. Oleh karena itu, saat Lili, temannya, menyodorkan alga hijaubiru, Shirley teratrik mencobanya. Alga itu bernama cryptomonadales yang berukuran amat mini: 4 mikron. Dosisnya 15 tablet dengan frekuensi konsumsi 3 kali sehari.
'Seminggu setelah minum obat, badan saya panas dan sesak. Yang paling parah, jari-jari bengkak tak bisa dibengkokkan,' kata Shirley. Perubahan itu menyebabkan ia berniat menghentikan konsumsi alga. Namun, Lili meyakinkan bahwa efek itu merupakan detoksifikasi sel-sel yang tidak baik. Tubuh merespon dengan suhu tubuh lebih tinggi dan sesak napas. Mendengar keterangan itu, Shirley melanjutkan konsumsi cryptomonadales dengan dosis sama.
Hasilnya amat signifikan. Dalam 2 bulan, ketika pemeriksaan kanker paru-paru mengering dan tidak membuat sesak napas. Itu artinya, Shirley tak lagi memerlukan masker untuk melindungi paru-parunya. Rambut rontok akibat kemoterapi pun kini tumbuh kembali. Efek lainnya, ia tak lagi ketergantungan obat-obatan darah tinggi. Fisik membaik itu sejalan dengan hasil laboratorium yang menunjukkan nilai penanda kanker: tumor CA 19,9 turun menjadi 42,2 U/ml atau mendekati kisaran normal. Selain itu, nilai asam urat juga turun menjadi 6,2 U/l.
PPARs
Menurut Prof Ih Jen Su, periset National Health Research Institute, Taiwan, ampuhnya cryptomonadales mengatasi kanker karena kandungan peroxisome proliferatoractivated receptors (PPARs). Ia menginjeksi 8 tikus menggunakan dimethylnitrosamine (DMNA), pemicu kanker kulit hingga menimbulkan luka menganga. Alumnus Harvard Medical School itu lalu mengompres 4 tikus dengan ekstrak cryptomonadales, sisanya tidak diberi perlakuan apa pun. Ekstrak cryptomonadales efektif mengurangi perluasan papiloma kulit.
Nun di Jepang, Yasunori Tsubouchi periset First Department of Internal Medicine, Kyoto Prefectural University of Medicine, membuktikan senyawa PPARs mengontrol pembengkakan akibat serangan sel kanker payudara dan kanker prostat. Cara kerjanya dengan mensintesis komponen antithiazolidinedione (troglitazone) dan 15-deoxy-h12,14-prostaglandin yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan kanker melalui apoptosis.
Sedangkan Sung Yong Lee dari Department of Internal Medicine, Korea University, mengatakan PPARs berperan penting pada pertumbuhan dan pembelahan sel. Pengontrolannya dengan meningkatkan fosfat dan menghilangkan rangkaian kerusakan pada kromosom yang berefek proliferasi atau penyebaran sel kanker paru. Artinya, PPARs berfungsi sebagai antitumor paru saat terjadi kerusakan DNA dan RNA kromosom. Tak heran, berbagai penyakit yang diidap Shirley enyah karena konsumsi cryptomonadales. Alga hijau biru itu menjadi ujung jalan penderitaannya. (Vina Fitriani/Peliput: Niken Anggrek Wulan).
Senin, Mei 05, 2008
Penggerus Kanker Usus
Gunawati tidak pernah menyangka sakit perut yang kerap menyiksa mengantarkannya ke meja operasi. Awal 2006, perutnya kerap melilit. Ketika suatu pagi menemukan darah dalam feses, ia memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Di Rumahsakit Budi Mulia, Surabaya, ibu 2 anak itu ditangani 2 dokter, spesialis kandungan dan ahli penyakit dalam. Hasilnya: ada benda asing di rahim seukuran telur. Selain itu, dalam usus besar juga tampak ada polip yang mulai menyebar. Menurut dokter, polip dalam usus besar merupakan tanda-tanda awal terjangkit kanker usus. Atas saran dokter, Gunawati melakukan rawat inap. Selama 10 hari opname, dia diharuskan mengkonsumsi berbagai obat-obatan.
Trenyuh melihat kondisi Gunawati, beberapa kerabat memindahkan perawatan ke Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Di negeri Singa itu dokter memeriksa Gunawati lebih intensif, seperti papsmear dan ultrasonografi. Hasilnya mengejutkan, dalam usus besarnya ditemukan 14.000 polip. Padahal, normalnya dalam usus besar harus tanpa polip. Umumnya polip disebabkan kurang konsumsi serat.
Banyaknya jumlah polip dalam usus besar Gunawati menyebabkan dokter memutuskan polipektomi atau operasi pembuangan polip sekaligus mioma dalam rahim. Dua minggu setelah operasi, pemilik kedai ayam goreng itu kembali memeriksakan diri ke dokter. Melalui pemeriksaan darah, dokter mengetahui 4.000 polip tersisa dalam usus besar Gunawati. 'Kok bisa ya? Padahal kan sudah dioperasi,' ujar Gunawati menirukan ucapan dokter. Kecewa dengan hasil pengobatan di sana, ia pun memutuskan kembali ke tanahair.
Cryptomonadales
Tiba di tanahair, adiknya menawarkan cryptomonadales. 'Siapa tahu bisa membuat badanmu kuat,' tutur sang adik sembari menyodorkan sebotol cryptomonadales. Cryptomonadales adalah tumbuhan bersel satu. Gunawati pun mulai mengkonsumsi 10 tablet alga hijau biru itu setiap hari. Setelah 5 hari mengkonsumsi 50 tablet thallophyta-tumbuhan tanpa akar, batang, dan daun sejati-itu, perubahan mulai dirasakannya. Tubuhnya lebih bertenaga.
Setahun setelah mengkonsumsi cryptomonadales Gunawati kembali memeriksakan diri ke Singapura. Hasilnya, di usus besarnya hanya tersisa 9,8 polip. 'Dokter saja sampai kaget kok bisa turun banyak sekali,' katanya sumringah. Puas dengan hasilnya, Gunawati memutuskan untuk terus mengkonsumsi in chao-sebutan cryptomonadales di Taiwan. Upaya itu diimbangi dengan pengurangan konsumsi kepiting, udang, dan daging merah. Kesehatan kelahiran Semarang itu pun kembali pulih.
Perihal cryptomonadales tokcer melawan kanker sudah dibuktikan oleh Prof Wang Shun Te, mantan guru besar Pingtung Technology University di Taiwan. Penelitian selama 30 tahun berhasil menemukan kandungan senyawa yang menyusun tumbuhan supermini berukuran 7 mikron-seukuran debu-itu. Senyawa yang paling spektakuler adalah Peroxisome Proliferator Activated Receptors alias PPARs. Senyawa aktif itu diperoleh dari ekstraksi nukleus atau inti sel cryptomonadales.
Ada 3 bentuk PPARs yakni alfa, beta, dan gamma. Secara umum, PPARs berperan sebagai reseptor yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Suplemen seperti alga biasanya bersifat proliferasi, artinya memperbanyak reseptor. Fungsi lain dari PPARs adalah untuk merangsang sel T. Sel itulah yang menjadi salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Menurut dr Sri Budiwati dari klinik Herbs Medicine, Surabaya, dalam cryptomonadales terkandung berbagai senyawa spesial yang mampu melawan kanker. Pendapat itu sejalan dengan penelitian dr Ih Jen Su PhD, dosen Fakultas Kedokteran National Cheng Kung, University Taiwan. Ih Jen Su berhasil menemukan senyawa fikosianin dalam cryptomonadales. Senyawa itulah yang dipercaya sebagai antivirus dan tokcer melawan sel kanker. Mekanisme untuk mengatasi serangan sel kanker secara apoptosis. Penjelasan sederhananya, fikosianin menyebabkan sel kanker bunuh diri.
Bakteri
Menurut Yu-Sheng Chao PhD, peneliti Bioteknologi dan Farmasi National Health Research Institute, fikosianin juga berfaedah sebagai antioksidan yang membangun sistem kekebalan tubuh. Caranya dengan meningkatkan limfosit alias sel darah putih. Semua bibit penyakit yang masuk lewat aliran darah akan dilibas oleh sel darah putih itu.
Cryptomonadales juga disusun oleh komponen bernama Chlorella Growth Factor alias CGF. Tidak semua ganggang mempunyai kandungan growth factor. Hasil penelitian Dr Fujimaki, dari People's Scientific Research Center di Tokyo berhasil menemukan manfaat CGF, yaitu membantu pertumbuhan bakteri berguna dalam usus besar. 'Kolon dihuni oleh 300-400 jenis bakteri,' kata dr Otjoeng Handajanto, ahli hidroterapi kolon di Bandung. Salah satu jenis bakteri yang berguna adalah Lactobacillus acidophilus.
Bakteri baik yang dikenal dengan istilah mikroflora itu berguna untuk memberikan perlindungan dengan menyerang bakteri merugikan alias patogen. Mekanismenya dengan membentuk asam-asam organik, terutama asam lemak volatile dan memproduksi antibakteri selain asam. Jika bakteri baik menurun, mereka tak mampu melawan patogen.
'Konsumsi makanan berpengawet dan polusi bisa membunuh bakteri baik dalam usus,' tambah Otjoeng. Padahal, bakteri itu sangat bermanfaat dalam menjaga ketahanan tubuh manusia. Bila ketahanan tubuh anjlok, maka penyakit pun mudah menyerang. Di sinilah peran lain dari CGF dalam cryptomonadales. Ia mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara mengaktifkan sel-sel tubuh sehingga fungsi metabolisme berjalan normal. (Lani Marliani/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)
Di Rumahsakit Budi Mulia, Surabaya, ibu 2 anak itu ditangani 2 dokter, spesialis kandungan dan ahli penyakit dalam. Hasilnya: ada benda asing di rahim seukuran telur. Selain itu, dalam usus besar juga tampak ada polip yang mulai menyebar. Menurut dokter, polip dalam usus besar merupakan tanda-tanda awal terjangkit kanker usus. Atas saran dokter, Gunawati melakukan rawat inap. Selama 10 hari opname, dia diharuskan mengkonsumsi berbagai obat-obatan.
Trenyuh melihat kondisi Gunawati, beberapa kerabat memindahkan perawatan ke Mount Elizabeth Hospital, Singapura. Di negeri Singa itu dokter memeriksa Gunawati lebih intensif, seperti papsmear dan ultrasonografi. Hasilnya mengejutkan, dalam usus besarnya ditemukan 14.000 polip. Padahal, normalnya dalam usus besar harus tanpa polip. Umumnya polip disebabkan kurang konsumsi serat.
Banyaknya jumlah polip dalam usus besar Gunawati menyebabkan dokter memutuskan polipektomi atau operasi pembuangan polip sekaligus mioma dalam rahim. Dua minggu setelah operasi, pemilik kedai ayam goreng itu kembali memeriksakan diri ke dokter. Melalui pemeriksaan darah, dokter mengetahui 4.000 polip tersisa dalam usus besar Gunawati. 'Kok bisa ya? Padahal kan sudah dioperasi,' ujar Gunawati menirukan ucapan dokter. Kecewa dengan hasil pengobatan di sana, ia pun memutuskan kembali ke tanahair.
Cryptomonadales
Tiba di tanahair, adiknya menawarkan cryptomonadales. 'Siapa tahu bisa membuat badanmu kuat,' tutur sang adik sembari menyodorkan sebotol cryptomonadales. Cryptomonadales adalah tumbuhan bersel satu. Gunawati pun mulai mengkonsumsi 10 tablet alga hijau biru itu setiap hari. Setelah 5 hari mengkonsumsi 50 tablet thallophyta-tumbuhan tanpa akar, batang, dan daun sejati-itu, perubahan mulai dirasakannya. Tubuhnya lebih bertenaga.
Setahun setelah mengkonsumsi cryptomonadales Gunawati kembali memeriksakan diri ke Singapura. Hasilnya, di usus besarnya hanya tersisa 9,8 polip. 'Dokter saja sampai kaget kok bisa turun banyak sekali,' katanya sumringah. Puas dengan hasilnya, Gunawati memutuskan untuk terus mengkonsumsi in chao-sebutan cryptomonadales di Taiwan. Upaya itu diimbangi dengan pengurangan konsumsi kepiting, udang, dan daging merah. Kesehatan kelahiran Semarang itu pun kembali pulih.
Perihal cryptomonadales tokcer melawan kanker sudah dibuktikan oleh Prof Wang Shun Te, mantan guru besar Pingtung Technology University di Taiwan. Penelitian selama 30 tahun berhasil menemukan kandungan senyawa yang menyusun tumbuhan supermini berukuran 7 mikron-seukuran debu-itu. Senyawa yang paling spektakuler adalah Peroxisome Proliferator Activated Receptors alias PPARs. Senyawa aktif itu diperoleh dari ekstraksi nukleus atau inti sel cryptomonadales.
Ada 3 bentuk PPARs yakni alfa, beta, dan gamma. Secara umum, PPARs berperan sebagai reseptor yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Suplemen seperti alga biasanya bersifat proliferasi, artinya memperbanyak reseptor. Fungsi lain dari PPARs adalah untuk merangsang sel T. Sel itulah yang menjadi salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Menurut dr Sri Budiwati dari klinik Herbs Medicine, Surabaya, dalam cryptomonadales terkandung berbagai senyawa spesial yang mampu melawan kanker. Pendapat itu sejalan dengan penelitian dr Ih Jen Su PhD, dosen Fakultas Kedokteran National Cheng Kung, University Taiwan. Ih Jen Su berhasil menemukan senyawa fikosianin dalam cryptomonadales. Senyawa itulah yang dipercaya sebagai antivirus dan tokcer melawan sel kanker. Mekanisme untuk mengatasi serangan sel kanker secara apoptosis. Penjelasan sederhananya, fikosianin menyebabkan sel kanker bunuh diri.
Bakteri
Menurut Yu-Sheng Chao PhD, peneliti Bioteknologi dan Farmasi National Health Research Institute, fikosianin juga berfaedah sebagai antioksidan yang membangun sistem kekebalan tubuh. Caranya dengan meningkatkan limfosit alias sel darah putih. Semua bibit penyakit yang masuk lewat aliran darah akan dilibas oleh sel darah putih itu.
Cryptomonadales juga disusun oleh komponen bernama Chlorella Growth Factor alias CGF. Tidak semua ganggang mempunyai kandungan growth factor. Hasil penelitian Dr Fujimaki, dari People's Scientific Research Center di Tokyo berhasil menemukan manfaat CGF, yaitu membantu pertumbuhan bakteri berguna dalam usus besar. 'Kolon dihuni oleh 300-400 jenis bakteri,' kata dr Otjoeng Handajanto, ahli hidroterapi kolon di Bandung. Salah satu jenis bakteri yang berguna adalah Lactobacillus acidophilus.
Bakteri baik yang dikenal dengan istilah mikroflora itu berguna untuk memberikan perlindungan dengan menyerang bakteri merugikan alias patogen. Mekanismenya dengan membentuk asam-asam organik, terutama asam lemak volatile dan memproduksi antibakteri selain asam. Jika bakteri baik menurun, mereka tak mampu melawan patogen.
'Konsumsi makanan berpengawet dan polusi bisa membunuh bakteri baik dalam usus,' tambah Otjoeng. Padahal, bakteri itu sangat bermanfaat dalam menjaga ketahanan tubuh manusia. Bila ketahanan tubuh anjlok, maka penyakit pun mudah menyerang. Di sinilah peran lain dari CGF dalam cryptomonadales. Ia mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara mengaktifkan sel-sel tubuh sehingga fungsi metabolisme berjalan normal. (Lani Marliani/Peliput: Lastioro Anmi Tambunan)
Minggu, Maret 02, 2008
Kesaksian Bpk. Budhi Agustono
Bpk. Budhi Agustono
Jl. Rangkah IV/4
Surabaya
Sebelum menggunakan Cryptomonadales, Bpk. Budhi mengalami penyakit asam urat sehingga menyebabkan ginjalnya bagian kiri sulit untuk dievaluasi. Setelah pemeriksaan dari laboratorium, diketahui asam urat yang ada sgt tinggi ( 11 ml/dL ). Hal ini menyebabkan beliau tidak dapat buang air besar selama kurang lebih 2 minggu dan seluruh badan mengalami sakit.
Jl. Rangkah IV/4
Surabaya
Sebelum menggunakan Cryptomonadales, Bpk. Budhi mengalami penyakit asam urat sehingga menyebabkan ginjalnya bagian kiri sulit untuk dievaluasi. Setelah pemeriksaan dari laboratorium, diketahui asam urat yang ada sgt tinggi ( 11 ml/dL ). Hal ini menyebabkan beliau tidak dapat buang air besar selama kurang lebih 2 minggu dan seluruh badan mengalami sakit.
Bpk. Budhi mencoba untuk mengkonsumsi Cryptomonadales selama kurang lebih 6 hari (15 Oktober - 21 Oktober 2006). Hasilnya menakjubkan !!!!!. Beliau bisa tidur nyenyak kembali tanpa rasa sakit di sekujur badan dan bisa buang air besar kembali dengan lancar. Kadar kreatinin beliau juga menurun.
_
Langganan:
Entri (Atom)